Situs media online terkini yang menyajikan berita politik dan kabar dari dalam negeri maupun mancanegara yang sedang menjadi viral di media. Tapsel, Madina, Padangsidempuan, Palas Paluta

Laskar ‘Pelangi’ Sipirok, Letnan Sahala Muda Pakpahan dan Benteng Huraba di Padang Sidempuan: Lahirnya Tokoh-Tokoh Militer dari Tapanuli Bagian Selatan


Bagian-1: Laskar ‘Pelangi’ dari Sipirok Merantau Menuju Medan
Kafilah ‘Padati’ Trayek Sipirok-Sidimpuan
Seorang pemuda belia (lima belas tahun) kelahiran desa Sunge Durian, Kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan. Kehidupan di desanya di jaman pendudukan Jepang tidaklah begitu sulit, bahkan berkecukupan, karena letak desa ini jauh dari jalan raya di tengah hutan (luat harangan). Akan tetapi pemuda ini selalu gelisah jika berdiam di huta, karena ia sendiri tidak ingin selalu disuruh ibunya ke sawah-ladang. Jika waktunya tiba hari poken (hari pasar) setiap hari kamis ia mendapat tugas untuk mengangkut hasil-hasil bumi dengan kuda beban ke suatu tempat di pinggir jalan raya Sipirok-Padang Sidempuan di desa Situmba.

Padati jaman 'doeloe' (Illustrasi/foto Basyral Hamidy Harahap) 
Hasil-hasil bumi ini ditampung oleh pedagang pengumpul untuk diteruskan ke pasar Padang Sidempuan. Pada masa Jepang transportasi mobil (truk dan bis) dari Sipirok ke Sidempuan digantikan dengan padati (pedati). Konon, bis-bis yang ada di Sipirok semuanya disita oleh militer/polisi Jepang untuk kebutuhannya sendiri. Karena itu, angkutan barang dan orang dilakukan dengan pedati. Jumlah pedati ini sangat banyak. Biasanya perjalanan Sipirok-Padang Sidempuan (dan sebaliknya) ditempuh dalam dua malam. Dari Sipirok/Situmba berangkat malam hari dan pagi hari tiba di Aek Pargarutan. Siang hari para kafilah ini beristirahat (memasak, tidur, mengumpulkan rumput dan memberi kesempatan kerbau untuk beristirahat juga). Malam hari kafilah berangkat lagi dan tiba di Kantin/Padang Sidempuan pagi hari. Pedati di parkir di dekat jembatan Siborang (kerbau di arahkan ke sungai, para crew padati beristirahat, memasak dan bongkar muat barang. Untuk sarana angkutan dari terminal padati ke pasar Sidempuan dilakukan oleh para kuli angkut dengan menggunakan osaka. Pada sore hari memuat barang dan malam hari perjalanan kembali ke Sipirok dilakukan lagi. Diharapkan pagi hari tiba di sub terminal di Aek Pargarutan dan malam harinya perjalanan dilanjutkan ke Sipirok.

Pemuda belia tadi turut dalam kafilah ini, bahkan dilakukan bertahun-tahun, sebagai crew padati trayek Sipirok-Padang Sidempuan. Rupanya pemuda ini merasa lebih nyaman dengan cara ikut kafilah jika dibandingkan harus ke sawah-ladang dan lagi pula hanya sekali sepekan melihat keramaian. Memang ia hanya sampai SR kelas tiga plus sedikit-sedikit kosa kata bahasa Belanda, tapi dengan berinteraksi dengan banyak orang (terutama dengan orang ‘kota’ di Sipirok dan Padang Sidempuan) ia merasakan arti kegunaan pelajaran yang diperolehnya di SR. Apalagi interaksinya itu dilakukan di dunia perniagaan. Mungkin ia berpikir, dari pada menghitung apporik (buruk pipit) dan mendengar suara imbo (Hylobates sindactylus) tiap hari di huta lebih menarik menghitung rumah-rumah besar di kota atau sepanjang perjalanan dan menghitung orang yang lalu lalang di pasar. Yang mungkin lebih penting, di dalam pikirannya, pengetahuan, pengalaman dan kematangan di dalam dirinya semakin meningkat. Pemuda ini menjadi matang dengan sendirinya jauh di luar huta.
Setelah Indonesia merdeka, pasukan Jepang baik di Sidempuan maupun di Siprok lumpuh (akibat Hirosima dan Nagasaki). Kehidupan yang bertahun-tahun mencekam (menderita) tiba-tiba menyeruak menjadi normal kembali (sebagaimana di jaman Belanda). Akan tetapi denyut perekonomian belum sepenuhnya pulih. Bis atau truk yang dulunya disita militer/polisi Jepang diambil kembali oleh para pemiliknya. Kafilah padati pun lambat laun bubar digantikan oleh angkutan mobil kembali untuk trayek Sipirok-Padang Sidempuan. Pemuda belia itu kehilangan dunia barunya yang mengasikkan. Oleh karena umur yang masih muda dan tidak memiliki kerabat di Padang Sidempuan ia pun tidak memutuskan memilih karir di Padang Sidempuan. Ia kembali ke huta di luat harangan, Sipirok.
Peta 1896-1905 (diterbitkan 1908)
Di huta (Sunge Durian), pemuda belia ini kembali ke kehidupan yang lama--sawah dan ladang serta sekali sepekan ke ‘poken’ plus pada hari tertentu menjadi penghubung dengan abang-abang dan adik-adiknya sebagai ‘kuli panggul’ untuk mengantar bekal (beras dan bahan lauk kering) yang tengah bersekolah jauh di luar huta termasuk diantaranya di Parau Sorat dan Sipirok. Dunia seakan berbalik arah dari dunia hiruk pikuk di Sipirok dan Padang Sidempuan menjadi dunia yang sunyi senyap di huta apalagi yang geografis huta itu berada jauh di tengah ‘harangan’. Suasana hati semakin kusut, lebih-lebih ibunya mendesak untuk segera mambuat boru (menikah) karena umurnya sudah lewat ‘sweet seventeen’. Harapan ibunya dapat dimaklumi, mengingat pemuda ini adalah anak keempat dari sembilan bersaudara. Akan tetapi sikap pemuda ini yang menolak ‘mambuat boru’ juga bisa dimaklumi karena ia merasa jalan pikirannya sebagai ‘anak kota’ daripada sebagai ‘daganak parhuta-huta’.
‘Laskar Pelangi’ dari Sipirok
Kota Sipirok, 1937 (Foto:KITLV.NL)
Tidak tahan suasana statis di huta, pemuda ini memutuskan untuk pindah dan menetap di Sipirok. Namun yang diharapkan di Sipirok juga tidak kondusif buat diri pemuda desa ini, apalagi kerabat dekat juga tidak ada di pasar Sipirok. Suasana pasar Sipirok hanya ramai di hari poken atau pada hari-hari ada transaksi dagang. Lambat laun kelesuan mulai terasa. Balik ke huta, pusing, bertahan di Sipirok juga pusing. Berbulan-bulan kehidupan yang dilalui di pasar Sipirok hanya sekadar meluaskan pergaulan sesama pemuda dari kampung yang berbeda-beda di seputar Sipirok. Pemuda ini semakin galau, kehidupan tak menentu hingga akhirnya pemuda ini dengan kawan-kawannya untuk memikirkan kehidupan baru di dunia perantauan. Masa itu para pemuda ini sudah sering dengar di dalam perbualan di lopo-lopo (kedai kopi) begitu banyaknya orang Sipirok, Parau Sorat dan Baringin dari kalangan berpendidikan dan tergolong kaya di jaman Belanda sukses meniti karir di Doli (Medan). Rupanya mereka berpikir ada kehidupan yang layak di Kota Medan. Beberapa dari para pemuda belasan tahun dari golongan keluarga yang tak punya ini pun bersepakat untuk merantau ke Medan.

Masjid Sipirok 1936-1939 (Foto: KITLV.NL)
Setelah masing-masing pamit ke huta mereka berkumpul kembali di Sipirok. Ada tujuh orang diantara mereka yang berkekuatan hati untuk tetap melanjutkan misi perantauan. Setelah solat subuh di masjid Sipirok mereka berangkat dengan ransel di punggung yang berisi pakaian seperlunya, beras, garam, ikan asin (ransel buatan sendiri yang terbuat dari karung tepung/goni) dengan jalan kaki menuju ke arah timur (menyongsong matahari terbit). Mengapa harus jalan kaki? Waktu itu suasana baru merdeka, ekonomi belum pulih, transportasi sudah lama lumpuh sejak pendudukan Jepang. Untuk ke Medan melalui jalan raya tidak mungkin. Para pemuda ‘miskin’ ini sudah barang tentu tak mungkin mampu membayar sekalipun ongkos truk atau menumpang pada mobil-mobil pribadi orang kaya di Sipirok maupun di Padang Sidempuan. Itu sebabnya mereka berkekuatan hati jalan kaki kea rah timur yang maksudnya menuju Rantau Prapat. Mereka sudah lama mendengar dari para perantau yang pulang kampung bahwa ada kereta api barang (plus penumpang) rute Medan-Rantau Prapat.
Tujuh ‘laskar pelangi’ ini hanya mengandalkan nyali dan semangat untuk menembus rintangan perjalanan yang cukup mengerikan. Tidak memiliki kompas dan juga tidak membawa peta perjalanan dan bahkan dengan perbekalan yang seadanya. Pedoman mereka hanya satu yakni bergerak ke arah matahari terbit. Sudah pasti mereka akan mengikuti jalan setapak yang ada dan bahkan harus merintis jalan lewat hutan, semak, sungai melalui lembah, bukit-bukit yang kadang-kadang jurangnya sangat dalam. Di tengah jalan resiko terhadap binatang buas dan berbisa tidak terhindari.
Setiap pagi dalam memulai perjalanan mereka berharap akan bermalam di setiap kampung yang dilewati jika sudah dekat malam hari, Namun ada juga yang terpaksa harus membuat pondok (dari kayu dan ilalang) di pinggir sungai jika kampung untuk disinggahi tidak ditemukan tanda-tanda. Suasana di pondok ini sangat mencekam karena sewaktu-waktu dapat dimaksa binatang buas atau digigit ular tapi yang paling berat adalah tidak makan nasi dan hanya makan ikan yang ditangkap di sungai atau hasil berburu hewan-hewan hutan. Kalau menginap di kampung yang ditemui, mereka minta tolong untuk menanak nasi dengan bekal beras yang mereka bawa.
Ketika perbekalan beras habis mereka kemudian membayar makanan yang disediakan oleh penduduk desa yang menampung mereka untuk menginap. Dan ketika beras habis dan uang juga mulai menipis, sementara perjalanan masih panjang ke Rantau Prapat apalagi harus sampai ke tujuan akhir di Medan, maka sesungguhnya mereka sudah mulai frustrasi. Suatu malam di suatu kampung, uang yang di kantong masing-masing sudah hampir kosong, timbul gagasan diantara mereka jelang tidur. Diantara mereka ada satu orang yang punya keahlian untuk mematri (kebetulan dia juga bawa timah) dan kebetulan huta yang mereka singgahi itu jumlah penduduknya cukup banyak. Mereka memutuskan untuk berkeliling kampung seharian untuk mengumpulkan perlengkapan dapur, panci, piring, dan peralatan dapur lainnya yang bocor untuk dipatri. Hasil dari kegiatan mematri ini cukup banyak untuk melanjutkan perjalanan.
Akhirnya setelah seminggu mereka sampai di Rantau Prapat. Akan tetapi setelah menghitung uang yang ada ongkos kereta hanya sampai ke Pematang Siantar saja. Selama perjalanan kereta masing-masing terbawa dengan pikiran masing-masing, sebab perjalanan masih jauh ke Medan, sementara dari sisa uang yang ada hanya cukup untuk ongkos dan untuk membeli makanan seadanya saja. Setelah tiba di Pematang Siantar mereka berpencar untuk mencari pekerjaan masing-masing untuk memenuhi hidup sehari-hari. Merantau ke Medan sebagaimana mereka bertekad dari kampung menjadi tidak tercapai. Situasi menjadi tampak sulit karena mempertahankan kumpulan (kelompok) untuk secara bersama-sama mencari kehidupan tak mungkin di sebuah kota yang jauh lebih ramai dari Padang Sidempuan apalagi pasar Sipirok. Kesulitan akhirnya terjadi bahwa mereka harus berpisah satu sama lain di Pematang Siantar untuk meniti karir masing-masing. Lantas 'Laskar Pelangi' dari Sipirok membubarkan diri.
Pemuda belia yang sebelumnya adalah seorang pemuda yang sudah terbiasa dengan kehidupan di kota Padang Sidempuan dan jauh dari huta di luhat harangan jelas lebih adaptif dibanding teman-temannya yang lain. Dia juga ternyata tidak mudah untuk mendapatkan pekerjaan hingga akhirnya ia berinisiatif masuk ke kumpulan Hizbullah di Pematang Siantar untuk menjadi laskar rakyat. Dia berpendapat dengan ikut menjadi laskar, maka sekurang-kurangnya makan dan tempat tidur sudah ditanggung perkumpulan. Dia melamar dan diterima. Kegiatan para laskar baru ini berlatih baris berbaris, mengasah ketangkasan, pertahanan dan penyerangan serta lainnya yang menjadi kurikulum bagi laskar muda. Kumpulan laskar-laskar ini bermunculan dimana-mana seiring dengan lumpuhnya militer/polisi Jepang. Lebih-lebih setelah diketahui pasukan Inggris (pimpinan sekutu) telah memanfaatkan situasi sebagai pemenang perang untuk menduduki kantong-kantong pertahanan Jepang di Indonesia.
Agresi Militer Belanda
Setelah beberapa bulan di Pematang Siantar dan melakukan tugas sebagai laskar, pemuda ini juga berhasil menabung sedikit demi sedikit dari uang saku yang diberikan pada waktu-waktu tertentu. Pada suatu hari pemuda ini mendengar kabar dari orang lain bahwa di Kisaran ada penerimaan anggota PMI (Palang Merah Indonesia). Karena aktivitas laskar itu monoton dan uang saku menjadi jarang diberikan, pemuda ini mengundurkan diri dari laskar dan terus ingin melanjutkan perjalanan ke Doli (Medan). Di Kisaran pemuda ini mendaftar sebagai anggota PMI dan diterima. Dia diterima tanpa catatan karena mengerti cukup banyak kosa kata bahasa Belanda. Apalagi waktu itu nama-nama obat dan surat-surat obat masih banyak yang menggunakan produk Belanda. Kehidupan pemuda ini di PMI Kisaran sedikit lebih baik jika dibandingkan di perkumpulan laskar di Pematang Siantar.
Setelah beberapa bulan ikut PMI, pemuda ini keuangannya mulai meningkat dan sudah mulai nyaman di Kisaran. Suatu waktu ketika mau berpikir untuk mundur dari PMI dan melanjutkan perantauan ke Medan, tiba-tiba tersiar kabar pasukan Belanda mendarat di Labuhan Bilik dan dengan cepat pasukan Belanda ini sudah memasuki kota Tanjung Balai dan Kisaran dan pusat-pusat perkebunan di daerah seputar Kisaran. Penduduk kota yang tidak senang kedatangan kembali Belanda ini meninggalkan kota dan mengungsi keluar kota.
Pemuda ini ikut mengungsi dan di pengungsian ikut bergabung dengan milisi (laskar). Kesadaran untuk berjuang melawan Belanda sudah terbentuk lama ketika mengalami penderitaan yang berat semasa era Jepang di Sipirok dan Padang Sidempuan. Ketika terbentuk dan tumbuh milisi dari rakyat di daerah Sumatera Timur, pemuda perantauan ini tidak memiliki sanak saudara yang harus dijaga. Lagi pula kemampuan untuk ikut milisi sudah ada ketika di perkumpulan laskar di Pematang Siantar.
Milisi ini bergerilya minggu demi minggu antara daerah Kisaran dan daerah Tanjung Morawa. Namun lama-lama para milisi ini terdesak dengan semakin menguatnya pasukan Belanda yang sudah menyebar kemana-mana. Mereka terus bergerilya hingga akhirnya mundur dan terdesak hingga ke daerah Kisaran kembali. Para pengungsi sudah mulai mengungsi secara estapet ke arah Rantau Prapat. Singkat cerita para milisi ini semakin terdesak hingga mundur jauh ke Rantau Prapat, Kota Pinang, Langga Payung dan Gunung Tua.Dalam proses pengungsian ini para laskar termasuk pemuda belia ini berfungsi sebagai pengamanan. Sementara di bagian lain di Sumatera Utara, pasukan Belanda sudah juga menguasai kota-kota utama seperti Brastagi, Kabanjahe, Pematang Siantar, Parapat, Balige, Tarutung dan Sibolga. Hanya wilayah Padang Sidempuan yang belum tersentuh pasukan militer Belanda. Situasi yang tidak menentu dan penetrasi pasukan Belanda semakin dalam dan penguasaan daerah-daerah yang sebelumnya sebagai konsentrasi militer/polisi Jepang, maka pemuda ini lambat laun ikut mundur bersama pengungsi hingga akhirnya memasuki daerah Tapanuli Selatan.

***
Di daerah Tapanuli Selatan (yang merupakan daerah kampung halamannya), pemuda belia ini langsung bergabung dengan pasukan milisi yang ada di daerah Padang Sidempuan dan sekitarnya. Di Sipirok sendiri sudah terdapat kantong-kantong pengungsi yang berasal dari Karo dan daerah lainnya yang termasuk bagian Sumatera Timur. Pemuda belia ini dengan kelompok milisinya untuk bersiap-siap mengantisipasi pasukan Belanda, apalagi sudah diperoleh kabar bahwa kota Sibolga ibukota Keresidenan Tapanuli sudah dikuasai oleh pasukan Belanda. Singkat cerita, selama di daerah Tapanuli Bagian Selatan, pemuda belia ini sudah pernah beberapa kali ganti kelompok milisi, adakalannya ikut milisi di daerah Padang Lawas, daerah Sipirok, daerah Padang Sidempuan termasuk di Benteng Huraba. Dia juga pernah bergabung dengan milisi yang dipimpin oleh seorang militan dari Sipirok, namanya Sahala Muda Pakpahan (dikemudian hari dijuluki sebagai Jenderal Naga Bonar dari Sipirok). Kebetulan Sahala Muda Pakpahan ini sudah dikenal oleh pemuda belia ini di pasar Sipirok, sebelum pemuda belia ini memutuskan merantau ke Sumatera Timur.  Kelompok-kelompok milisi yang pernah diikuti pemuda  belia ini dalam bergerilya di Tapanuli Bagian Selatan untuk melawan pasukan Belanda semuanya di dalam basis ruang pertempuran yang dikoordinasikan oleh para militer Brigade-B yang dipimpin Mayor Bedjo.
*Pemuda belia ini telah wafat pada tanggal 10 Mei 2012 dengan status Veteran Republik Indonesia  dalam usia 84 tahun dan dikebumikan di Padang Sidempuan. Meninggalkan anak-anaknya sebanyak sembilan orang (enam diantaranya sarjana). Setelah perang kemerdekaan ia tidak ‘mulak tu huta’ tetapi meniti karir di Padang Sidempuan sebagai pedagang hasil-hasil bumi khususnya dari Sipirok. Di penghujung masa hayatnya, ia berdiskusi selama tiga malam dalam kondisi sehat walafiat dengan penulis, tetapi sebulan kemudian dikabarkan telah meninggal dunia dengan tenang. Selamat jalan Oppung, Ayah, Uda, Abang, kami melepaskanmu dengan ikhlas, doa kami mengiringimu dalam perjalanan menuju di sisiNya. Amin.
------------------------
Bersambung….



Bagian-2: Pertempuran 'Benteng Huraba' di Padang Sidempuan: Peran Laskar dan Rakyat Tapanuli Selatan dalam Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia


....Benteng Huraba tercatat dalam sejarah pertempuran di Indonesia dimana pasukan militer dan pasukan polisi (mobrig) serta laskar rakyat bahu membahu melakukan pertempuran yang heroik untuk mengusir pasukan Belanda. Menariknya, Benteng Huraba ini merupakan benteng yang tidak pernah ditembus oleh pasukan Belanda hingga akhirnya pihak Belanda mengakui kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)...

….Letnan Sahala Muda Pakpahan (‘Jenderal Naga Bonar’) dari Sipirok yang menembak langsung Letnan Jenderal Simon Hendrik Spoor (Panglima KNIL dan komandan tertinggi militer Belanda di Indonesia, tewas di Jembatan Aek Gambiri (Aek Horsik), Simagomago, Sipirok pada tangga 23 Mei 1949”. Pertempuran Simagomago ini terjadi ketika pasukan Belanda mengarahkan perjalanannya menuju utara (via Sipirok) tatkala pasukan Belanda ini tidak bisa bergerak lebih jauh ke arah selatan menuju Panyabungan dan Bukittinggi. Benteng Huraba menjadi rintangan besar dalam sejarah pertempuran pasukan Belanda di Sumatera Utara (Sumatera Timur dan Tapanuli)…..

....Benteng Huraba (1949) dan Benteng Padang Sidempuan (1849) adalah dua benteng yang sangat fenomenal di Tapanuli Bagian Selatan. Seratus tahun sebelum Benteng Huraba, Pasukan Belanda memasuki kota dan menduduki Benteng Padang Sidempuan. Benteng Padang Sidempuan direbut pasukan Belanda dari arah selatan (Bukit Tinggi/Panyabungan), sementara Benteng Huraba tidak pernah ditembus pasukan Belanda untuk menuju Panyabungan/Bukittinggi. Di Benteng Huraba, pasukan Belanda menghadapi pertempuran dimana mereka harus mundur kembali. Skak mat....

....Peristiwa-peristiwa yang mengerikan di wilayah Tapanuli Bagian Selatan di masa 'doeloe' oleh tindakan  bumi hangus pasukan Paderi dan penderitaan oleh penjajahan Belanda memunculkan anak-anak negeri di Tapanuli Bagian Selatan untuk angkat senjata untuk mempertahankan harga diri (Benteng Huraba dan Benteng Padang Sidempuan). Keberanian pemuda-pemuda Tapanuli Bagian Selatan yang bersumber dari inspirasi dua benteng tersebut menjadi semacam 'password' munculnya tokoh-tokoh militer utama di Indonesia, seperti:

1. Jemderal Besar Abdul Haris Nasution
2. Kolonel Zulkifli Lubis
3. Mayjen Marah Halim Harahap
4. Mayjen Kaharuddin Nasution
5. Letjen Achmad Rivai Harahap
6. Mayjen Raja Inal Siregar
7. Mayjen (Pol) M.H. Ritonga
8. Mayjen Syamsir Siregar
9. Letjen Azmyn Yasri Nasution
0. Mayjen (Pol) Saud Usman Nasution
dan lainya

Laskar ‘Pelangi’ Sipirok, Letnan Sahala Muda Pakpahan dan Benteng Huraba di Padang Sidempuan: Lahirnya Tokoh-Tokoh Militer dari Tapanuli Bagian Selatan Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Andri Michael

0 comments: