Situs media online terkini yang menyajikan berita politik dan kabar dari dalam negeri maupun mancanegara yang sedang menjadi viral di media. Tapsel, Madina, Padangsidempuan, Palas Paluta

Merari Siregar

Lahir di Sipirok, Sumatera Utara, 13 Juni 1896. Masa kecilnya di lalui di daerah Sipirok. OIeh karena itu, sikap, perbuatan, dan jiwanya sangat dipengaruhi oleh kehidupan masyarakat Sipirok. Dalam kesehariannya, ia kerap menjumpai kepincangan-kepincangan khususnya mengenai adat, sehingga hati kecilnya berkeinginan untuk mengubah sikap orang-orang yang berpandangan kurang baik tersebut.

Pengalaman dan pengamatannya sejak kecil tersebut kemudian di tuangkan ke dalam tulisan ketika ia berkiprah sebagai penulis, sehingga tercipta suatu karya roman berjudul Azab dan Sengsara. Karyanya tersebut adalah roman pertama Indonesia yang di terbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1920 dan dianggap sebagai pemula dalam kehidupan prosa Indonesia Modern. Selain itu roman Azab dan Sengsara juga merupakan ‘peniup terompet’ pertama yang menyuarakan pertentangan kaum muda masa itu dengan adat istiadat lama.

Roman Azab dan Sengsara bercerita tentang kawin paksa dalam adat Minangkabau yang melibatkan interaksi kehidupan anak laki-laki dan perempuan dari dua keluarga, yaitu Baginda Diatas dan Sutan Baringin, kedua-duanya bangsawan kaya, berlangsung di daerah Siporok, Padang dan Medan, Sumatera Utara, dengan berbagai konflik dan komplikasi tak putus-putusnya. Di bumbui pula dengan perbedaan status sosial, dominasi peramal, tipu muslihat, kecemburuan, paksaan, siksa, perceraian, dan di akhiri dengan ajal Mariamin, tokoh perempuan muda bernasib malang yang saleha itu.

Roman Azab dan Sengsara muncul ketika Belanda sedang bergairah melaksanakan politik etisnya. Kegairahan itu antara lain ditandai dengan berdirinya Conunissie Voor Volkslectuur (Komisi untuk Bacaan Rakyat) di tahun 1908 yang bertugas menyelenggarakan dan menyebar bacaan-bacaan, seperti terjemahan, saduran, dan karangan kepada rakyat dan para pelajar sekolah bumi putera.


Tamatan Handelscorrespondent Bond A di Jakarta (1923) juga membuat karya yang lain, cerita Si Jamin dan Si Johan, yang merupakan saduran dari karya Justus van Maurik, (Uit het Volk). Buku Si Jamin dan Si Johan cetakan pertama di terbitkan Balai Pustaka pada tahun 1918. Dalam buku tersebut juga di muat karangan kecil yang berjudul Penghibur Hati karya S. Paimin yang merupakan nama samarannya.

Cerita Si Jamin dan Si Johan serta Penghibur Hati itu mendapat hadiah dalam sayembara mengarang tentang pemberantasan madat. Dalam saduran itu menciptakan lingkungan cerita yang baik sehingga tanpa membaca cerita aslinya kita seolah-olah membaca cerita baru yang terjadi di Indonesia (Jakarta). Daerah-daerah seperti Prinsenlaan di Taman Sari dan Glodok serta suasana Betawi tahun 20-an dilukiskan sehingga menimbulkan kerawanan di hati pembacanya.

Selain Azab dan Sengsara serta Si Jamin dan Si Johan, sastrawan yang pernah menjadi guru di Medan, Sumatera Utara ini, juga membuat sejumlah buku, Binasa Karena Gadis Priangan (Balai Pustaka, 1931), Cerita Tentang Busuk dan Wanginya Kota Betawi (Balai Pustaka, 1924) dan Cinta dan Hawa Nafsu. Profesi guru yang pernah dijalaninya, ikut mewarnai gaya penceritaan dan gaya karya sastranya, baik karya asli maupun sadurannya. Penggunaan bahasa yang lancar dan rapi dengan gaya khotbahnya langsung menunjukkan perkataan atau maksudnya kepada pembaca.


Pernah bekerja di Rumah Sakit CBZ (sekarang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo). Kemudian ia pindah ke Kalianget, Madura, dan bekerja di Opium end Zouregie. Wafat di Kalianget, Madura, Jawa Timur, 23 April 1941. Meninggalkan tiga orang anak, Florentinus Hasajangu MS lahir 19 Desember 1928, Suzanna Tiurna Siregar lahir 13 Desember 1930, dan Theodorus Mulia Siregar lahir 25 Juli 1932.

Merari Siregar Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Andri Michael

0 comments: